Kasus di Jakarta Mulai Menurun, Fahira Idris: Tantangan ke Depan Lebih Besar

Di awal-awal penerapan PPKM Darurat, kasus Covid-19 di banyak daerah terutama Jawa-Bali melonjak tajam termasuk di DKI Jakarta. Namun kini, setelah hampir sebulan penerapan PPKM Darurat jumlah kasus Covid-19 mulai menurun seperti yang terjadi di Jakarta.

Pengetatan pembatasan selama PPKM Darurat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh Pemprov DKI Jakarta bersama stakeholder terkait lainnya melakukan berbagai intervensi penanggulangan mulai dari peningkatan tes, lacak, isolasi/pengobatan, menambah jumlah tempat tidur dan tenaga kesehatan (nakes), percepatan vaksinasi hingga berbagai upaya lainnya.

Anggota DPD RI yang juga Senator DKI Jakarta Fahira Idris mengungkapkan, mulai menurunnya kasus aktif di Jakarta patut disyukuri oleh seluruh warga Jakarta. Cara paling tepat mensyukuri penurunan kasus ini adalah warga Jakarta semakin disiplin jalankan protokol kesehatan dan menjadi warga yang aktif untuk divaksinasi.

Ini karena dalam semua upaya penanggulangan pandemi, tantangan terbesarnya justru di situasi-situasi atau kondisi di mana jumlah kasus mulai melandai yang biasanya diiringi dengan pelonggaran pembatasan dan penurunan kedisiplinan jalankan protokol kesehatan.

“Satu hal yang harus menjadi ingatan bersama, baik untuk para pengambil kebijakan dan kita semua bahwa saat terjadi lonjakan kasus kemarin ada teman, tetangga, saudara, keluarga atau bahkan orang tua dan anak kita yang harus berpulang. Mereka bukan sekedar angka atau statistik karena ada kisah dan kebahagian yang harus ikut terenggut. Tentu kita tidak ingin lagi berada dalam kondisi seperti kemarin. Untuk itu, tantangan ke depan akan jauh lebih besar karena kita harus bisa menurunkan lebih signifikan lagi jumlah kasus aktif. Namun ini tidak mudah, terlebih jika nanti dilakukan berbagai pelonggaran,” ujar Fahira Idris di Jakarta (28/7).

Baca Juga:  PPKM Darurat Berlaku 3-20 Juli: Work From Home 100 Persen di Jawa dan Bali

Tantangan besar yang akan dihadapi ke depan harus menjadi concern semua pihak terutama Pemerintah Pusat sebagai pengambil kebijakan utama penanggulangan Covid-19. Pemerintah Pusat diharap setia merujuk kepada pendekatan ilmiah jika ke depan ingin melakukan pelonggaran pembatasan.

Kebijakan dengan pendekatan ilmiah tentunya dihasilkan dari data dan informasi yang transparan dan sesuai dengan fakta di lapangan. Kesetiaan terhadap pendekatan ilmiah, ditambah dengan percepatan vaksinasi massal akan membuahkan hasil yang efektif bagi kita semua untuk segera mengendalikan pandemi yang sudah berlangsung setahun lebih ini.

“Artinya jika ingin menurunkan level PPKM di suatu daerah harus ekstra hati-hati. Bukan hanya melihat kasus yang turun tetapi juga memastikan tempat keterisian tempat tidur rumah sakit khususnya ICU, defisit oksigen, rasio kasus positif dan berbagai faktor lainnya,” pungkas Fahira Idris.*

Artikel terkait

Leave a Comment