Prof. Dailami Firdaus: Evaluasi Menyeluruh Konsep dan Kriteria Abang None Jakarta
KLIPING.id-Jakarta, – Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta dan anggota Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi, Prof. Dr. H. Dailami Firdaus merespon Pemilihan Abang None 2026 yang menuai kritik.
Kritik muncul setelah terpilih dari Jakarta Selatan terpilih sebagai Abang dan None Jakarta 2026 dalam malam final yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026). Keterpilihan ini, oleh masyarakat dan tokoh Betawi, dinilai tidak mencerminkan budaya Betawi yang sesungguhnya, yang menjadi landasan utama event bergengsi ini.
“Saya ingin menegaskan satu hal. Kalau kita membawa nama dan budaya Betawi, maka jati diri Betawi harus dihormati secara utuh. Jangan Betawi hanya ditampilkan melalui pakaian, kesenian, atau simbol-simbolnya, sementara nilai yang menjadi ruhnya justru ditinggalkan,” ujar Prof. Dailami kepada media, Senin, (21/9/2026)
Menurut Prof. Dailami, Betawi sejak dahulu bertumpu pada tiga pilar, yakni Agama, Adab, dan Adat. Ketiganya tidak bisa dipisahkan.
“Karena itu, saya sangat memahami kegelisahan masyarakat dan para tokoh Betawi terhadap penyelenggaraan Abang None Jakarta tahun ini. Persoalannya bukan semata-mata siapa yang terpilih, tetapi bagaimana marwah dan jati diri Betawi tetap dijaga,” tambahnya.
Untuk itu Prof. Dailami meminta Pemprov DKI Jakarta dan penyelenggara mengambil tiga langkah konkret. Pertama evaluasi menyeluruh konsep dan kriteria Abang None. Kedua tetapkan standar representasi budaya Betawi yang berlandaskan Agama, Adab, dan Adat. Dan yang ketiga libatkan ulama, tokoh adat, budayawan, dan lembaga kebetawian sejak perencanaan hingga penilaian.
“Abang None jangan hanya beratribut Betawi, tetapi harus memahami, menghormati, dan mampu membawa nilai-nilai Betawi,” tegas Prof. Dailami.
Prof. Dailami yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi As Syafi’iyah (YAPTA) ini, menekankan, kita memang ingin Jakarta menjadi kota global, modern, dan terbuka. Tetapi menjadi global bukan berarti kehilangan akar.
Agama dijaga. Adab dijunjung. Adat dilestarikan. Betawi jangan sampai kehilangan jati dirinya di tanahnya sendiri.
”Jakarta boleh mendunia, tetapi Betawi jangan kehilangan jati dirinya. Agama dijaga, Adab dijunjung, dan Adat dilestarikan,” tutupnya.***()
