Menpar Pastikan Rehabilitasi Ramah Budaya dan Ekonomi Warga Desa Adat Sade

Menpar Pastikan Rehabilitasi Ramah Budaya dan Ekonomi Warga Desa Adat Sade

KLIPING.id-Lombok – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana meninjau kembali proses rehabilitasi Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascakebakaran yang terjadi pada 22 Agustus 2026, sekaligus memastikan pemulihan kawasan wisata budaya tersebut mengutamakan kelestarian tradisi, keselamatan, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Dalam kunjungannya pada Minggu (11/10/2026), Menpar Widiyanti menegaskan bahwa pemulihan Desa Adat Sade tidak sebatas membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga menghidupkan kembali seluruh ekosistem kehidupan masyarakat Sasak, mulai dari pelestarian tradisi dan nilai-nilai adat hingga keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

“Prinsip kita jelas, yaitu membangun kembali Desa Adat Sade agar lebih aman dan lebih tangguh, tanpa kehilangan keaslian arsitektur serta nilai-nilai adat yang menjadi identitasnya,” kata Menpar Widiyanti.

Menteri Pariwisata bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah, serta mitra strategis, hadir di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), datang untuk meninjau dampak kebakaran yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan aktivitas pariwisata setempat. Kehadiran lintas lembaga ini mencerminkan perhatian dan sinergi berbagai pihak dalam mendukung pemulihan masyarakat, pelestarian warisan budaya, serta keberlanjutan pariwisata Desa Adat Sade.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pariwisata didampingi oleh Sekretaris Kementerian Bayu Aji, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Hafiz A. Rifai, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Wilayah II Marhen Dwi Yono, serta Direktur Politeknik Pariwisata Lombok Ali Muhtasom.

Turut hadir Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, Wakil Gubernur NTB Indah Damayanti, jajaran Pemerintah Provinsi NTB, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. Dukungan juga datang dari mitra strategis, yakni PT Amerta Indah Otsuka.

Menurut Menpar Widiyanti, dampak kebakaran tersebut tidak dapat dilihat semata-mata dari besarnya kerugian materiil. Lebih dari itu, terdapat kehidupan sosial, mata pencaharian, serta warisan budaya masyarakat yang harus dipulihkan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Namun, bagi kita, angka tersebut tidak hanya menggambarkan kerugian fisik. Ada kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan warisan budaya yang harus kita pulihkan secara bersamaan,” kata Menpar.

Baca Juga:  Komisi XI Dorong OJK Matangkan Peraturan Perbankan Syariah

Proses rekonstruksi Desa Adat Sade telah dimulai pada 3 September 2026, ditandai dengan pelaksanaan ritual adat Nyemulak (Tanjak Teken) sebagai simbol peletakan batu pertama pembangunan kembali kawasan tersebut bersama para mitra.

Tahap awal pembangunan diprioritaskan pada pemulihan fasilitas yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat, dimulai dari pembangunan masjid, kemudian sekenam sebagai ruang berkumpul, museum semipermanen, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak.
Selanjutnya, proses rekonstruksi akan dilaksanakan secara menyeluruh dengan tetap mempertahankan karakteristik arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, serta pola kehidupan masyarakat Sasak yang menjadi kekhasan Desa Adat Sade.

Menpar Widiyanti menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan masyarakat dan wisatawan. Karena itu, pembangunan kembali Desa Adat Sade perlu mengintegrasikan sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat tanpa menghilangkan keaslian kawasan.

Aspek keselamatan tersebut mencakup penyediaan sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, ketersediaan pasokan air dan alat pemadam kebakaran, perbaikan sanitasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.

Menurutnya, upaya tersebut penting untuk memastikan Desa Adat Sade tidak hanya kembali menjadi destinasi wisata budaya yang menarik, tetapi juga menjadi lingkungan yang lebih aman, tangguh, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

Di samping pemulihan infrastruktur, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan perhatian khusus terhadap keberlangsungan mata pencaharian masyarakat selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung.

Untuk membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas produktif, Kemenpar telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja dengan nilai keseluruhan mencapai Rp817,5 juta.

Bantuan tersebut meliputi 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun.

Dukungan ini diharapkan memungkinkan masyarakat adat Sade, khususnya para pengrajin dan pengusaha UMKM, untuk kembali berproduksi, memasarkan hasil kerajinan, dan memperoleh penghasilan harian tanpa harus menunggu seluruh proses pembangunan fisik selesai.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan keterampilan tradisional masyarakat Sasak, termasuk kerajinan tenun yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga:  Cara Pandang Baru tentang Warisan dan Masa Pensiun

Dalam kunjungan tersebut, Menpar Widiyanti bertemu dan berdialog langsung dengan Ibu Ina Aris, salah satu penenun di Desa Sade, yang berharap tenun lokal Sade dapat semakin dikenal masyarakat.

“Motif tenun Sade punya ciri khas tersendiri. Saya berharap, wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga mengenal proses pembuatan tenun dan membeli produk lokal. Dengan begitu, tenun Sade semakin dikenal, tetap lestari, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,”ujar Ina.

Menpar Widiyanti menegaskan bahwa masyarakat adat Sade harus menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan pemulihan. Keterlibatan masyarakat diperlukan agar proses penataan kembali kawasan tetap menghormati nilai-nilai adat, mempertahankan kearifan lokal, dan menjawab kebutuhan nyata warga.

Dengan pendekatan tersebut, rehabilitasi Desa Adat Sade diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi kawasan sebagai destinasi wisata, tetapi juga menghadirkan pengalaman berwisata yang lebih berkualitas, autentik, aman, dan memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat setempat.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata juga turut meninjau Museum Sade bersama kurator Museum NTB, serta mencoba langsung fasilitas virtual tour dukungan Poltekpar Lombok.

Inisiatif ini menjadi bentuk pemanfaatan teknologi digital untuk memperkaya pengalaman wisatawan, memperluas akses terhadap warisan budaya Sasak, serta mendukung pelestarian budaya lokal melalui inovasi pariwisata.

Menpar Widiyanti juga menyapa anak-anak setempat dan memberikan cenderamata edukatif sebagai bentuk perhatian serta apresiasi. Momen ini menjadi wujud kedekatan pemerintah dengan masyarakat, sekaligus menumbuhkan semangat generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya lokal.

“Senang sekali bisa bertemu adik-adik di Sade. Terus semangat belajar, bermain, dan berkreasi ya sebagai generasi penerus yang akan menjaga warisan budaya Indonesia,” ucap Menpar.

Sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang, Kemenpar juga menyiapkan berbagai program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat lokal dalam mengelola aktivitas pariwisata dan usaha kreatif berbasis budaya.

Program tersebut mencakup peningkatan kompetensi pemandu wisata lokal, penerapan standar keselamatan dan pelayanan wisata, pembaruan katalog produk kerajinan, penguatan identitas dan citra produk (branding), serta pemanfaatan pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca Juga:  Polemik Muhammad Kace Menguras Energi Bangsa, Netty: Pemerintah Harus Segera Selesaikan!

Selain itu, Kemenpar turut mempersiapkan peluncuran kembali (relaunching) Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya, dengan memastikan kesiapan masyarakat, fasilitas pendukung, dan standar keselamatan agar wisatawan dapat kembali berkunjung dengan aman dan nyaman.

Menpar Widiyanti berharap seluruh rangkaian pemulihan tersebut dapat menjadi momentum untuk membangun tata kelola pariwisata yang semakin berpihak kepada masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya sebagai kekayaan bangsa.

Kepala Dusun Adat Sade, Endap menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Pariwisata atas kunjungan serta dukungan yang diberikan kepada masyarakat Sade di tengah proses pemulihan.

“Bagi kami, Sade bukan sekadar destinasi wisata, tetapi rumah bagi budaya dan adat istiadat warisan leluhur yang harus terus kami jaga. Kami berharap dukungan dari Ibu Menteri dan seluruh pihak dapat mempercepat pemulihan Sade agar masyarakat kembali beraktivitas dan tradisi kami tetap lestari,” kata Endap.

Kehadiran Menteri diharapkan dapat memperkuat semangat masyarakat untuk bangkit, memulihkan aktivitas pariwisata, serta menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat warisan leluhur yang menjadi identitas Dusun Adat Sade.

Menpar, dalam kesempatan tersebut, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses pemulihan Desa Adat Sade, mulai dari penanganan awal kebakaran, pendataan kerusakan dan kebutuhan masyarakat, rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga pemberian dukungan ekonomi serta persiapan pemulihan aktivitas pariwisata.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, mitra pembangunan, dan seluruh pemangku kepentingan harus terus dilanjutkan hingga hasil pemulihan benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Bagi Menpar Widiyanti, keberhasilan rehabilitasi Desa Adat Sade tidak cukup diukur dari jumlah bangunan yang berhasil dibangun kembali, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk bangkit, menjaga tradisi, dan memperoleh kembali penghidupan yang layak.

“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak bangunan yang kembali berdiri, melainkan saat masyarakat kembali berdaya, budaya tetap hidup, ekonomi bergerak, dan wisatawan dapat berkunjung dengan aman,” ucap Menpar.

 

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana berdialog dengan salah satu pengrajin tenun saat meninjau kembali proses rehabilitasi Desa Adat Sade, Lombok, Minggu (11/10/2026).

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *