Indonesia Harus Ubah Kekayaan Alam Menjadi Kekuatan Ekonomi Menuju 2045
KLIPING.id-JAKARTA — Indonesia perlu mengubah paradigma pembangunan ekonomi dengan mengoptimalkan kekayaan alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi menjadi kemampuan produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Langkah ini dinilai penting untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, berdaulat, dan berkelanjutan pada 2045.
Gagasan tersebut disampaikan Bungaran Saragih dalam pidato bertema Indonesia 2045: Sistem Agro-Industri Nasional, Dari Anugerah Alam Menuju Kemampuan di Sekolah Bisnis IPB University, Bogor, Kamis (15/10/2026).
Dalam pemaparannya, Bungaran menyoroti paradoks pembangunan Indonesia. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, wilayah kepulauan yang luas, jumlah penduduk besar, serta pasar domestik yang potensial. Namun, berbagai keunggulan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan kemampuan ekonomi dan kemakmuran yang merata.
Menurut gagasan yang dipaparkannya, persoalan utama Indonesia bukan semata-mata kekurangan modal atau sumber daya. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana mengorganisasikan berbagai potensi tersebut agar mampu bekerja secara terpadu dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
“Selama ini, sumber daya alam dapat diekspor tanpa penguasaan teknologi yang memadai. Produksi bisa meningkat tanpa diikuti perbaikan posisi petani dan nelayan, sementara investasi bertambah tanpa selalu memperkuat industri nasional,” jelasnya di Bogor, Kamis (15/10/2026).
Bungaran menawarkan Sistem Agro-Industri Nasional sebagai salah satu arsitektur transformasi ekonomi Indonesia menuju 2045. Konsep ini menempatkan pertanian dalam pengertian luas, termasuk perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, pengolahan hasil, distribusi, hingga konsumsi masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, pertanian tidak hanya dipandang sebagai kegiatan produksi di lahan, kebun, kandang, atau kolam. Sektor ini merupakan bagian dari rantai nilai yang menghubungkan sumber daya alam, benih, pupuk, pakan, mesin, teknologi, industri pengolahan, logistik, pembiayaan, pasar, dan konsumen.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara produksi biologis dan industri pengolahan sehingga komoditas Indonesia tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Dengan pengolahan yang lebih mendalam, sumber daya hayati dapat dikembangkan menjadi produk pangan, pakan, energi hayati, biomaterial, produk kesehatan, serta jasa lingkungan. Pengembangan tersebut membutuhkan dukungan riset, inovasi, teknologi, pembiayaan, dan akses pasar.
Sistem Agro-Industri Nasional juga menuntut kolaborasi lintas sektor.
“Kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga riset, lembaga keuangan, koperasi, petani, nelayan, dan masyarakat perlu bergerak dalam satu ekosistem yang saling terhubung,” jelasnya
