Jurus Jitu Kemenkes Turunkan Kasus Baru TBC Hingga 65 per 100 Ribu Penduduk

Jurus Jitu Kemenkes Turunkan Kasus Baru TBC Hingga 65 per 100 Ribu Penduduk
KLIPING.ID, DENPASAR–Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan angka kasus baru TBC hingga 65 kasus per 100 ribu penduduk. Sejumlah strategi akan dilakukan Kemenkes dengan dibantu kementerian/lembaga terkait.
Data teranyar kasus TBC menunjukkan sebanyak 301 kasus per 100 ribu penduduk, dan saat ini  Indonesia berada di posisi ke-3 kasus TBC terbanyak tingkat global.
Wakil Menteri Kesehatan dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan target 65 kasus per 100 ribu penduduk tersebut harus dicapai hingga tahun 2030.
”Mudah-mudahan langkah konkret bisa dihasilkan pada pertemuan TB Summit ini, dan memberikan kontribusi kepada seluruh stake holder terkait untuk menemukan kasus aktif dan pengobatan yang lebih baik kepada pasien-pasien TBC,” katanya dalam diskusi TB Summit di Bali, Kamis (21/10).
Kemenkes juga menargetkan penurunan angka kematian hingga 6 per 100 ribu penduduk.
Strategi yang akan dilakukan Kemenkes, tambah Dante, meliputi 3 hal yakni melalukan Preventif, Deteksi, dan Terapi.
Untuk Preventif, dilakukan dengan imunisasi BCG pada anak-anak yang sudah berlangsung puluhan tahun. Cakupan BCG 3 tahun terakhir angkanya semakin menurun, tahun 2018 sebanyak 37%, 2019 sebanyak 50%, dan tahun 2020 sebanyak 32%. Hal tersebut dikarenakan adanya pandemi COVID-19.
Kemudian pemberian terapi pencegahan TBC pada kontak erat.
”Jadi mereka yang sudah terkontak dengan pasien TBC di rumahnya bisa diberikan obat TBC sebagai preventif untuk mencegah terjadinya penularan lebih lanjut,” ucap Wamenkes Dante.
Strategi selanjutnya adalah Deteksi, mulai dari fasilitas kesehatan, tracing target per desa, kecamatan hingga provinsi dan utilisasi mesin tes cepat molekuler (TCM). Utilisasi mesin TCM yang tersedia di Puskesmas mengalami menurun akibat pandemi COVID-19.
Saat ini ada 1.168 alat TCM yang tersebar di 34 provinsi dan 496 kabupaten/kota. Wamenkes Dante mengatakan akan menambah jumlah mesin tersebut.
Strategi terakhir adalah Terapi, baik terapi sensitif TBC maupun TBC yang sudah resisten yang sulit diobati.
”Sebagai bagian dari masyarakat, kita harus berperan serta dalam kegiatan ini. Maka penemuan kasus di luar fasilitas kesehatan menjadi sangat penting dan menjadi ujung tombak dari skrining dan penemuan kasus TBC di masa yang akan datang,” tutur Dante.*
Baca Juga:  BSI Mesti Lari Kencang Integrasikan Sisa Cabang di Indonesia
Avatar

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *