Berburu Makanan Halal di Belanda, di Mana Saja?

Berburu Makanan Halal di Belanda, di Mana Saja?

Kliping.id-Berada di negara yang bukan Muslim, mencari makanan halal tidaklah mudah. Jikapun gampang memperolehnya, kendala lainnya, yaitu harganya selangit bagi kantong mahasiswa.

Itu seperti yang dialami Cahyo Pamungkas, mahasiswa S-3 asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda. Cahyo beruntung, di Kota Nijmegen banyak restoran yang menjajakan makanan halal. Jumlah Muslim di kota ini cukup banyak dibanding kota lain di Negeri Kincir Angin tersebut. Mayoritas dari mereka berasal dari Turki dan Maroko.

Cahyo berujar, warga Turki dan Maroko memang banyak yang berprofesi sebagai pemilik restoran di kota terbesar kesepuluh di Belanda itu. Cahyo yang tinggal di Belanda sejak 2011 ini mengungkapkan mayoritas restoran yang dimiliki oleh Muslim Turki dan Maroko sudah memiliki sertifikasi halal. “Meski ada juga sebagian kecil yang belum,” ujarnya kepada Republika.

Uniknya, di Nijmegen tak hanya restoran Turki dan Maroko saja yang menjual makanan halal. Restoran Indonesia pun mudah ditemui di kota itu. “Ada tiga restoran Indonesia di sini,” ujar pegawai LIPI tersebut. Namun, meski berlabel restoran Indonesia, tak semuanya dimiliki orang Indonesia. “Satu milik orang Cina, satu orang Belanda, dan hanya satu yang dimiliki orang Indonesia asli,” ujar Cahyo yang mengaku sudah pernah mampir ke semua restoran Indonesia tersebut.

Meski menyajikan makanan Indonesia, ternyata tidak semua makanan yang disajikan berlabel halal. Restoran yang dimiliki orang Cina dan Belanda masih menyajikan daging babi sebagai sajian. “Ada juga makanan yang halal,” kata Cahyo. Saat ia bertanya ke pemiliki restoran, mereka mengaku membedakan alat masak untuk makanan halal dan yang mengandung babi.

Meski menjual makanan halal, ketiga restoran Indonesia tersebut belum memiliki sertifikat halal dari otoritas setempat. Mudahnya mendapatkan makanan halal di negeri orang tak lantas membuat Cahyo melulu makan di restoran. Harga yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa sepertinya membuat Cahyo memilih memasak sendiri untuk keperluan sehari-hari. “Padahal, saya gak bisa masak,” ujar Cahyo.

Baca Juga:  Bertani Cara Metode Matapencaharian Mualaf Baduy

Sekali makan di restoran, setiap orang bisa menghabiskan 10-15 euro atau setara Rp 240 ribu. “Saya memilih memasak karena sekali makan di restoran dapat digunakan untuk satu pekan,” katanya.

Avatar

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *