Faktor Ini Dorong Dongkrak Produktivitas Padi di Merauke
KLIPING.id-Merauke – Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menunjukkan hasil positif. Produktivitas padi di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, mencapai sekitar 6 ton per hektare berdasarkan hasil pengukuran ubinan pada panen bersama, Kamis (5/11/2026). Capaian ini meningkat signifikan dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya sekitar 1 ton per hektare.
Peningkatan hingga enam kali lipat tersebut menjadi indikasi keberhasilan penerapan teknologi budidaya modern pada lahan sawah yang relatif baru dikembangkan. Terlebih, hasil tersebut diperoleh di tengah kondisi musim kemarau, yang menjadi tantangan tersendiri bagi kegiatan budi daya padi di wilayah tersebut.
Lahan yang dipanen merupakan bagian dari pengembangan program Cetak Sawah Rakyat tahun 2025 yang menerapkan teknologi PM-AAS. Melalui pendekatan ini, Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mendorong optimalisasi produktivitas lahan melalui pengaturan pola tanam, peningkatan populasi tanaman, penggunaan varietas unggul, serta pengelolaan budi daya yang lebih presisi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman beberapa saat lalu menegaskan bahwa penerapan PM-AAS merupakan salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Menurutnya, teknologi pertanian modern harus mampu memberikan hasil nyata melalui peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani.
“Produksinya bisa naik dua kali lipat. PM-AAS itu kombinasi antara metode Amerika, metode Indonesia, dan metode China. Produksinya bisa 12 ton atau katakanlah 10 ton per hektare,” ujar Mentan Amran.
Mentan menekankan bahwa peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan petani. Karena itu, penerapan teknologi modern menjadi bagian penting dalam mendorong pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan hasil pengembangan dan pengujian teknologi pertanian modern yang disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem Indonesia. Penerapannya tidak sekadar mengandalkan mekanisasi, tetapi juga memperbaiki sistem budi daya secara menyeluruh.
Menurut Fadjry, salah satu kunci PM-AAS adalah pengaturan jarak tanam dan peningkatan populasi tanaman hingga sekitar 800 ribu sampai 1 juta rumpun per hektare. Pendekatan tersebut memungkinkan pemanfaatan lahan lebih optimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan hara dan pengelolaan tanaman.
“PM-AAS bukan sekadar penggunaan alat dan mesin pertanian modern, tetapi merupakan perubahan sistem budi daya yang mengintegrasikan pengaturan populasi tanaman, penggunaan varietas unggul, dan pemupukan yang lebih presisi. Teknologi ini harus disesuaikan dengan kondisi lahan agar memberikan hasil optimal,” jelas Fadjry.
Ia menambahkan, capaian di Merauke menjadi contoh penting bahwa teknologi pertanian modern dapat diterapkan pada lahan pengembangan baru, termasuk kawasan rawa dan lahan dengan tantangan agroklimat tertentu. Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan pentingnya pengujian, rekomendasi teknologi, serta pendampingan secara berkelanjutan agar hasil panen dapat terus ditingkatkan.
Pelaksana Tugas Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Selatan, Martina Sri Lestari, menyampaikan bahwa peningkatan hasil panen di Kampung Waninggap Kai tidak terlepas dari penerapan pola tanam rapat dengan populasi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare.
“Ini lahan baru. Kita di tengah musim kemarau ini, dengan penerapan PM-AAS bisa dapat sampai sekitar 6 ton. Di musim yang pertama kita hanya bisa dapat 1 ton,” jelas Martina.
Ia mengungkapkan bahwa produktivitas 10 ton per hektare menjadi target pengembangan berikutnya. Oleh karena itu, pendampingan teknis dan perbaikan pengelolaan budi daya akan terus dilakukan untuk meningkatkan hasil pada musim tanam selanjutnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Josefa Louise Rumaseuw, turut mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian di wilayahnya. Menurutnya, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, BRMP, dan kelompok tani diperlukan agar pengembangan sawah baru dapat memberikan hasil yang semakin baik.
“Harapan kami kolaborasi ini tetap terjalin baik pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten,” ujarnya.
Ke depan, penerapan PM-AAS direncanakan diperluas pada sekitar 9.642 hektare lahan di Kabupaten Merauke pada musim tanam pertama mendatang. Perluasan ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan produktivitas padi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang telah dikembangkan melalui program cetak sawah rakyat.
BRMP melalui unit pelaksana teknis di daerah akan terus mengawal penerapan teknologi, mulai dari rekomendasi teknis, pendampingan budi daya, hingga evaluasi hasil panen. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Pertanian dalam mempercepat modernisasi pertanian, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Capaian di Waninggap Kai menunjukkan bahwa modernisasi pertanian bukan sekadar perubahan cara bertani, melainkan upaya menghadirkan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan memberikan manfaat nyata bagi petani. Dari lahan yang sebelumnya menghasilkan sekitar 1 ton per hektare, kini PM-AAS membuka peluang peningkatan produksi yang jauh lebih besar di Merauke.
