Investasi Asia Pasifik Masih Menarik, Apa Alasannya?

Investasi Asia Pasifik Masih Menarik, Apa Alasannya?

KLIPING.id-JAKARTA – Ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan meningkatnya risiko geopolitik masih menjadi perhatian utama investor sepanjang 2026.

 

Menurut Caroline Rusli, CFA. Senior Portfolio Manager – Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia,  di tengah kondisi tersebut, kawasan Asia Pasifik dinilai tetap menawarkan peluang investasi yang menarik berkat dukungan pertumbuhan laba perusahaan yang ditopang oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan belanja modal sektor teknologi global.

“Dalam publikasi Seeking Alpha edisi Juni 2026, disebutkan bahwa perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar,” ujar dia di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).

 

Ia katakan jika pada akhir 2025 pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada 2026, sejak Mei lalu ekspektasi tersebut berbalik menjadi potensi kenaikan suku bunga. Di Indonesia, kenaikan BI Rate yang lebih agresif dari perkiraan juga turut menekan minat investor terhadap aset berisiko.

Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada pasar saham Indonesia yang saat ini dinilai berada dalam fase selective value. Meskipun valuasi saham domestik tergolong menarik, investor asing masih cenderung berhati-hati karena terbatasnya katalis jangka pendek dan rendahnya visibilitas arah kebijakan. Oleh karena itu, pendekatan selektif melalui analisis fundamental dan pemilihan saham berbasis kinerja perusahaan menjadi strategi yang dinilai paling relevan saat ini.

 

Di sisi lain, kawasan Asia Utara dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gejolak global. Kawasan ini mendapat manfaat langsung dari meningkatnya investasi pada sektor AI, semikonduktor, serta infrastruktur digital. Kenaikan belanja modal perusahaan teknologi global seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap rantai pasok teknologi di Asia, mulai dari produsen chip hingga penyedia material dan komponen elektronik.

Baca Juga:  Investasi Dalam Perspektif Islam

 

Meski demikian, investor tetap perlu mengantisipasi volatilitas pasar. Data arus dana asing menunjukkan adanya fluktuasi signifikan dalam investasi ke pasar berkembang Asia selama 12 bulan terakhir. Kendati demikian, sejumlah pasar saham di kawasan tersebut tetap mampu mencatatkan kinerja positif, menandakan bahwa penguatan pasar mulai ditopang oleh faktor fundamental dan prospek pertumbuhan laba, bukan semata-mata oleh likuiditas global.

 

Secara keseluruhan, Asia Pasifik dipandang sebagai salah satu kawasan yang masih memiliki prospek menarik untuk alokasi investasi jangka menengah hingga panjang. Namun para investor diingatkan untuk tetap mencermati risiko yang berasal dari potensi kenaikan suku bunga global yang lebih agresif, konflik geopolitik yang berkepanjangan, serta kemungkinan koreksi di pasar yang telah mengalami kenaikan cukup tinggi.

“Dengan kondisi tersebut, strategi investasi yang selektif dan dikelola secara aktif dinilai menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang sekaligus mengelola risiko yang ada,” jelasnya.

 

 

 

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *