Geopolitik dan Kebijakan Ekonomi AS Jadi Tantangan Penerbitan Obligasi di Semester II 2026
Menurut Direktur Pemeringkatan PEFINDO, Hendro Utomo

,
prospek pasar surat utang korporasi masih didukung oleh besarnya kebutuhan refinancing yang mencapai Rp107,51 triliun pada Semester II 2026, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tetap stabil, serta minat investor yang masih tinggi terhadap instrumen pendapatan tetap.
“Sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai, antara lain risiko geopolitik global, kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih cenderung ketat, tingginya yield acuan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta meningkatnya selektivitas investor terhadap kualitas kredit emiten,” jelas dia dalam slide yang dipaparkan secara online di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Adapun penerbitan surat utang korporasi sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp87,35 triliun, atau turun sekitar 3,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp90,90 triliun. Meski demikian, aktivitas penerbitan dinilai masih berada pada level yang sehat karena nilainya tetap jauh melampaui surat utang yang jatuh tempo.
Ia menjelaskan bahwa rasio penerbitan terhadap surat utang yang jatuh tempo mencapai 158,2 persen, lebih tinggi dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar 140,3 persen. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan pendanaan korporasi melalui pasar obligasi masih tetap terjaga.
Berdasarkan data PEFINDO, sektor multifinance menjadi penyumbang penerbitan terbesar pada Semester I 2026 dengan nilai sekitar Rp12,93 triliun, diikuti industri pulp dan kertas sebesar Rp12,85 triliun, perusahaan induk Rp11,87 triliun, perbankan Rp11,69 triliun, serta pertambangan sebesar Rp11,59 triliun.
Secara keseluruhan, total outstanding surat utang korporasi hingga akhir Juni 2026 telah mencapai sekitar Rp684,6 triliun, meningkat dibandingkan akhir 2025 yang sebesar Rp649 triliun. Peningkatan ini menunjukkan pasar surat utang korporasi Indonesia masih terus berkembang.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan yield obligasi pemerintah dan suku bunga acuan telah meningkatkan biaya dana bagi emiten. Kondisi tersebut membuat perusahaan lebih selektif dalam menerbitkan surat utang, terutama bagi emiten dengan peringkat di bawah kategori A yang menghadapi biaya pendanaan lebih tinggi dibandingkan fasilitas kredit perbankan.
Hingga 30 Juni 2026, PEFINDO telah menerima mandat pemeringkatan dari 43 perusahaan dengan rencana penerbitan surat utang mencapai sekitar Rp50,82 triliun. Sektor pertambangan, perbankan, perusahaan induk, dan pembiayaan masih menjadi penyumbang terbesar dalam pipeline penerbitan
