Kepemimpinan dan Perjuangan PJMI

Kepemimpinan dan Perjuangan PJMI

KLIPING.id-Jakarta-PJMI salah satu organisasi wartawan yang meramaikan peta jalan pemberitaan. Ya, mereka bukan orang sembarangan, berasal dari redaksi dengan pengalaman panjang.

 

Tiga wajah berjajar dalam bingkai cokelat keemasan. Di kiri, Mohammad Anthoni berbatik biru, berkacamata, menoleh seperti sedang menimbang sesuatu. Di tengah, Iwan Samariansyah tertawa lebar, nyaris tanpa sisa. Di kanan, Ismail Lutan menatap lurus ke kamera, tenang dan tak banyak basa-basi. Tiga gaya, tiga zaman, satu organisasi.

Poster sederhana itu merangkum perjalanan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) yang kini genap berusia 15 tahun. Usia yang tanggung. Terlalu tua untuk disebut rintisan, terlalu muda untuk dianggap mapan. Tapi di dunia pers Indonesia, tempat organisasi wartawan datang dan pergi seperti tenggat edisi, bertahan satu setengah dekade bukan perkara remeh.

Tujuh Orang dan Sebuah Kegelisahan

PJMI lahir pada 2011. Bukan dari keputusan rapat besar, melainkan dari obrolan tujuh orang yang gelisah: (Alm.) R. Widojo Hartono, Suyunus Rizki, Mohammad Anthoni, Lukman B. Khalid, Iwan Samariansyah, Mashadi, dan Ahmad Djunaedi. Mereka wartawan, dan seperti kebanyakan wartawan, lebih fasih mengkritik keadaan ketimbang berdiam diri menghadapinya.

Pertanyaan mereka sederhana tapi tidak gampang dijawab: bisakah seorang jurnalis tetap profesional tanpa kehilangan iman, dan tetap beriman tanpa kehilangan profesionalisme? Dari pertanyaan itu PJMI dirumuskan sebagai wadah pemersatu jurnalis muslim, dengan khittah mengawal jurnalisme yang beretika dan bernapaskan nilai-nilai kebangsaan.

Di belakang tujuh nama itu berdiri tokoh pers senior lain. Salah satunya almarhum Imansyah Hakim Al Rasyid, yang ikut meletakkan pilar pergerakan jurnalis muslim di Jakarta. Namanya jarang muncul di spanduk acara. Jejaknya tertinggal di fondasi.

Menanam di Musim Kering

Baca Juga:  PJMI, Jalin Pena Indonesia, LKD dan FKIP UIA Temui Disdik Kota Bekasi, Bahas Penguatan Kolaborasi Pendidikan

Ketua Umum pertama jatuh ke tangan Mohammad Anthoni, M.Si. Ini masa paling sunyi bagi organisasi mana pun. Belum ada tepuk tangan, belum ada sorotan kamera. Yang ada hanya pekerjaan dasar: mengumpulkan anggota yang tercecer di berbagai redaksi, menyusun struktur, meyakinkan orang bahwa organisasi ini bukan sekadar papan nama.

Di bawah Anthoni, PJMI mulai menancapkan eksistensinya di peta media nasional. Kalimatnya pendek, kerjanya panjang. Organisasi yang tak pernah melewati fase sunyi biasanya juga tak bertahan lama.

Merajut yang Berserak

Periode kedua dipegang Iwan Samariansyah. Fokusnya tidak gemerlap: penguatan jaringan antar-anggota dan konsolidasi internal.

Pekerjaan semacam ini jarang masuk berita. Tidak ada peresmian, tidak ada pita yang digunting. Tapi siapa pun yang pernah mengurus organisasi wartawan tahu betapa sulitnya. Jurnalis adalah makhluk yang sibuk dan cenderung individualis. Mereka tersebar di banyak redaksi, dikejar deadline, dan punya kebiasaan meragukan apa saja, termasuk organisasinya sendiri.

Merajut mereka menjadi satu barisan memerlukan kesabaran yang tidak diajarkan di sekolah jurnalistik mana pun. Simpul-simpul yang diikat pada periode inilah yang kemudian menahan PJMI agar tidak tercerai-berai ketika angin berubah arah.

Keluar dari Ruang Kumpul

Agustus 2022, Musyawarah Nasional III PJMI memilih H. Ismail Lutan secara aklamasi. Tidak ada voting yang alot, tidak ada kubu yang saling sikut. Untuk ukuran organisasi wartawan, itu kabar yang hampir langka.

Bersama Sekretaris Umum W. Suratman, Ismail Lutan membawa PJMI bergerak lebih agresif. Organisasi ini tak lagi sekadar ruang kumpul profesi. Ia menjelma mitra strategis di bidang kebudayaan, sosial, dan keagamaan, memadukan agenda intelektual dengan kerja kemanusiaan.

Pergeseran itu penting. Organisasi profesi yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri lambat laun akan berubah menjadi arisan. Yang bertahan adalah yang memberi manfaat di luar lingkarannya.

Baca Juga:  Telkom Siapkan Talenta Digital melalui Program Google Career Certificate

Pena di Zaman Algoritma

Lima belas tahun terakhir mengubah jurnalisme lebih drastis daripada setengah abad sebelumnya. Koran cetak menipis. Layar ponsel menebal oleh notifikasi. Algoritma lebih menyukai kemarahan ketimbang kebijaksanaan, dan judul yang memancing klik kerap mengalahkan isi yang terverifikasi.

Di tengah situasi itu, jurnalis muslim memikul beban ganda. Mereka harus cermat sebagai pewarta, sekaligus menjaga adab sebagai orang beriman. Al-Qur’an membuka satu suratnya dengan sumpah atas pena: *Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.* Bagi wartawan, ayat itu bukan hiasan dinding. Ia pengingat bahwa alat kerja sehari-hari mereka dipandang serius oleh langit.

Prinsip *tabayyun*, memeriksa kabar sebelum menyebarkannya, pada dasarnya adalah verifikasi dalam bahasa agama. Ironisnya, di era banjir informasi, prinsip yang berusia empat belas abad itu justru terasa makin mendesak.

Tantangan PJMI ke depan ada di sana: berbicara kepada generasi jurnalis muda yang mengenal berita lebih dulu dari layar ketimbang dari lembar koran, tanpa terdengar seperti khotbah yang ketinggalan zaman.

Satu Tarikan Napas

Kembali ke poster itu. Tiga wajah, tiga periode, tiga cara memimpin. Anthoni menanam akar. Iwan merajut simpul. Ismail Luthan membuka pintu ke luar. Tak ada yang lebih penting dari yang lain. Pohon tanpa akar akan tumbang, barisan tanpa ikatan akan bubar, dan organisasi yang tak pernah membuka pintu akan pengap.

Organisasi, seperti manusia, tidak dibangun dari kesempurnaan. Ia dibangun dari kesetiaan untuk terus kembali meski pernah lelah. Para perintis menyerahkan, generasi berikutnya menerima, dan amanah berpindah tangan.

Lima belas tahun lalu, tujuh orang bertanya apakah iman dan profesionalisme bisa berjalan beriringan di ruang redaksi. PJMI belum selesai menjawabnya. Barangkali memang tidak akan pernah selesai. Tapi justru karena pertanyaan itu tetap hidup, organisasi ini tetap bernapas.

Baca Juga:  PJMI - Japan Foundation Jajaki Kerjasama Di bidang pendidkan, seni budaya dan program kemitraan

–

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *