Mandiri Sekuritas: Pasar Obligasi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

Mandiri Sekuritas: Pasar Obligasi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

KLIPING.id-Jakarta – PT Mandiri Sekuritas menilai pasar obligasi Indonesia atau Indonesian Government Bonds (INDOGB) masih memiliki prospek positif di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global. Dalam 2026 Bond Market Outlook, Mandiri Sekuritas menyebut fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien, meski pasar menghadapi tekanan dari perlambatan ekonomi global, risiko inflasi, geopolitik, harga minyak, perang tarif, dan supply shocks.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. “GDP 2Q26 tumbuh 5,29% YoY, di atas konsensus 5,10%,” kata Handy Yunianto dalam laporan tersebut. Mandiri Sekuritas memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3% pada 2026 dan 5,4% pada 2027.

Menurut Handy, inflasi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi rata-rata 3,4% pada 2026 dari 1,9% pada 2025, sebelum kembali turun menjadi 3,0% pada 2027. Level tersebut dinilai masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI). Di sisi fiskal, S&P juga mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada BBB/Stable, dengan dukungan prospek perbaikan penerimaan, fleksibilitas belanja, serta komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap PDB.

Dari sisi kebijakan moneter, Mandiri Sekuritas mencatat BI Rate berada di level 5,75% setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin sejak Mei. Kebijakan BI kemudian bergeser dari kenaikan suku bunga menuju dukungan yang lebih terarah melalui insentif foreign exchange hedging dan dukungan likuiditas. Mandiri Sekuritas memperkirakan BI Rate relatif stabil pada 2027 dan baru memasuki gradual easing mulai 2028 jika kondisi global lebih kondusif.

Handy juga menyoroti perbaikan kondisi likuiditas rupiah, terutama pada bank-bank BUMN. Perbaikan tersebut terjadi setelah pemerintah membatalkan rencana penarikan dana SAL sehingga tekanan biaya pendanaan domestik mereda. “Pada lelang SRBI 28 Agustus, rata-rata tertimbang yield turun 37 bps menjadi 6,99%, sementara yield SRBI 1 tahun turun menjadi 7,00% dari 7,37%,” ujar Handy.

Baca Juga:  Roscik Siap Mengantarkan Jadi Mitra Usaha

Ketahanan pasar obligasi Indonesia juga terlihat dari struktur kepemilikan surat berharga negara yang semakin didominasi investor domestik. Data per 20 Agustus 2026 menunjukkan total outstanding SUN dan SBSN mencapai Rp7.010,8 triliun, dengan kepemilikan asing sebesar Rp909,1 triliun atau 13,0%. Porsi tersebut dinilai membantu mengurangi kerentanan pasar terhadap arus keluar modal global.

Mandiri Sekuritas menilai tingginya yield INDOGB memberikan peluang carry yang menarik sekaligus potensi capital gain dalam jangka menengah, meski volatilitas jangka pendek masih perlu diwaspadai. Risiko utama berasal dari pergerakan long-end US Treasury yield, harga minyak, nilai tukar rupiah, kredibilitas kebijakan fiskal, serta pasokan surat berharga negara.

“Near-term volatility may persist, tetapi kami menilai yield sekitar 7,5%-7,7% merupakan level masuk yang menarik,” kata Handy Yunianto. Mandiri Sekuritas mempertahankan pandangan konstruktif untuk jangka menengah dengan target akhir tahun yield INDOGB tenor 10 tahun di level 6,8%-7,0%, dengan asumsi BI Rate berada pada 5,75%-6,00%, US Treasury 10 tahun 4,0%-4,5%, CDS Indonesia 5 tahun menyempit ke 80-100 bps, dan rupiah menguat menuju Rp17.400-Rp17.800 per dolar AS.

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *