Mata yang Enak Dipandang
KLIPING.id-Jakarta-Buku yang sudah lumayan lama saya koleksi, sayangnya belum semua saya baca ceritanya. Tapi, kau coba lihat dan baca judulnya saja, sudah tampak “Nyastra” bukan?
Soal sastra sendiri, sampai sekarang saya masih menjadi penikmat saja. Saya menyukai sastra, salah satu sebabnya, penulis sering (untuk tak mengatakan selalu) memandang dunia dengan cara yang berbeda. Bagi saya, ini menarik. Diam-diam, ketika saya banyak membaca karya sastra, juga secara tak langsung belajar untuk memandang dunia dengan cara yang mungkin tak dibaca oleh orang kebanyakan. Cara pandang yang orisinil, unik, khas, kadang aneh (absurd).
Secangkir teh hangat tanpa gula dan semangkuk kentang goreng menemani peresapan cerpen “Mata yang Enak Dipandang.”
Saya kutip dialog yang saya pikir inti ceritanya ada di sini.
“Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman enak dipandang. Ya, kukira betul. Mata orang yang suka memberi memang enak dipandang.”
Saya kira “Suka Memberi” sekadar gambaran paling gamblang apa yang sering disebut “Orang Baik”. Ya, orang baik punya “Mata yang Enak Dipandang”.
Cerita “Mata yang Enak Dipandang” menggambarkan sepenggal kehidupan di sudut kota tahun 1990-an. Sekitar stasiun sederhana. Dengan beragam kisah ketimpangan, tekanan kehidupan dan kerasnya orang-orang miskin bergulat dengan realitas sosial. Bagi para pedagang, pengasong, termasuk pengemis, mereka mencoba mengenali orang baik lewat sejauh mana “Mata yang Enak Dipandang”.
Mereka inilah yang bakal kasih “receh” sekaligus larisi dagangan mereka. Ternyata, menurut mereka, lebih banyak dari penumpang “Kelas Tiga” daripada “Kelas Utama”.
Apakah perkara “Mata yang Enak Dipandang” ini masih relevan sekarang?
Kita coba perluas. Umpamanya, “Mata yang Enak Dipandang” Sesungguhnya bukan sekadar penglihatan dengan mata fisik saja. Tapi, penglihatan dari hati nurani yang terpancar lewat “Mata yang Enak Dipandang” Itu. Sebuah “Mata” yang bisa melihat realitas sosial dengan beragam penderitaan dan mungkin juga penindasan bukan sebagai sebatas fakta di depan mata. Tapi semacam penglihatan dengan “Mata Kemanusiaan”.
Sekali lagi, di sini saya menemukan sudut pandang yang berbeda. Sisi lain yang perlu diselami. Melihat dunia bukan sebatas fakta-fakta, tapi bagaimana melihat realitas sosial dengan sudut pandang hati nurai, sudut pandang kemanusiaan.
Dengan demikian, cepat atau lambat kita bakal turut andil dalam setiap upaya ambil bagian dalam “Proyek” kepedulian. []
Oleh : Yons Ahmad
Kolumnis, Tinggal di Depok
