PT SMI telah masuk dalam daftar underlying transaksi repurchase agreement (repo) investor perbankan ke Bank Indonesia

PT SMI telah masuk dalam daftar underlying transaksi repurchase agreement (repo) investor perbankan ke Bank Indonesia

KLIPING.id-Jakarta – Kepercayaan investor terhadap PT Sarana Multi Infrastruktur
(Persero) (PT SMI) terus terjaga dan tumbuh dari tahun ke tahun. Sejak penerbitan Obligasi perdana pada tahun 2014, PT SMI telah menerbitkan 76 seri Obligasi dan Sukuk dengan akumulasi nilai Rp58,2 triliun, yang seluruh hasilnya dihimpun untuk membiayai pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Saat ini, Perseroan mencapai salah satu milestone penting dimana Obligasi dan Sukuk PT SMI telah masuk dalam daftar underlying transaksi repurchase agreement (repo) investor perbankan ke Bank Indonesia. Pencapaian ini menjadi langkah strategis dalam memberikan alternatif
likuiditas bagi investor perbankan sekaligus membuka peluang peningkatan likuiditas surat utang PT SMI di pasar sekunder. Hal ini tercermin dari respons positif investor pada lelang repo perdana yang dilaksanakan pada 28 September 2026, dengan Obligasi PT SMI senilai
Rp60 miliar terserap seluruhnya.

Pengesahan tersebut dilakukan dalam acara “Launching Perluasan Operasi Moneter”
di Bank Indonesia, Jakarta, pada Kamis (1/10) lalu, yang dihadiri oleh Gubernur
Bank Indonesia Destry Damayanti, Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Hasan Fawzi.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan
pentingnya instrumen keuangan baru bagi pendalaman pasar. “Pendalaman pasar keuangan membutuhkan instrumen-instrumen keuangan baru. Dengan adanya nanti SMF, apalagi SMI,
cakupannya akan lebih luas. Kalau SMF fokus di perumahan, SMI bisa infrastruktur dan macam-macam jenisnya,,” ujar Destry.
Sementara itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai langkah ini memperkokoh
ketahanan pembiayaan nasional. “Perluasan underlying ini memperkuat pembiayaan pembangunan yang lintas sektor, karena PT SMI pembiayaannya itu sangat-sangat beragam,” tutur Suahasil.

Baca Juga:  Produk Halal Disukai Non Muslim

Bagi investor perbankan, status baru Obligasi dan Sukuk PT SMI ini memberikan nilai tambah yang nyata. Perbankan kini dapat menggunakan Obligasi dan Sukuk PT SMI untuk mengakses likuiditas dari Bank Indonesia. Daya tarik tersebut semakin kuat setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan klasifikasi High-Quality Liquid Assets (HQLA) Obligasi dan Sukuk PT SMI dari Level 2B menjadi Level 2A, sehingga kontribusinya dalam perhitungan rasio kecukupan likuiditas bank menjadi lebih besar. Peningkatan kualitas aset
likuid ini menurunkan risiko likuiditas Obligasi dan Sukuk PT SMI serta membuka ruang bagi perbankan untuk meningkatkan kepemilikannya sebagai alternatif diversifikasi portofolio
terhadap SUN.

Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, menyampaikan “Perbankan kini punya ruang lebih fleksibel dalam mengelola likuiditas dengan menambah pilihan instrumen di pasar keuangan, namun sekaligus mendukung pembangunan nasional. Bagi PT SMI, status baru Obligasi dan Sukuk PT SMI ini akan membantu kami untuk meningkatkan kapasitas dalam menjalankan mandat pembiayaan pembangunan dengan target infrastruktur dan layanan publik
yang lebih baik,” ujar Reynaldi.

Hingga 30 September 2026, PT SMI mencatatkan outstanding Obligasi dan Sukuk sebesar Rp19,2 triliun. Dengan peringkat kredit domestik tertinggi, yakni idAAA dari PEFINDO dan
AAA(idn) dari Fitch Ratings, PT SMI telah menerbitkan beragam instrumen yang menjangkau berbagai segmen investor, mulai dari obligasi konvensional, Obligasi Hijau (Green Bond), Obligasi Keberlanjutan (Sustainability Bond), Sukuk Mudharabah, hingga menjangkau investor ritel melalui Obligasi Ritel Infrastruktur PT SMI (ORIS)

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *