Saham Konglomerasi Tekan IHSG, Mirae Asset Sekuritas Soroti Ini
KLIPING.id-Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan di pasar saham domestik masih berlanjut setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,59% ke level 5.936. Pelemahan ini dipimpin oleh koreksi tajam sejumlah saham konglomerasi, seperti DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN.
Sebanyak 11 sektor saham melemah, dengan 632 saham turun dan hanya 118 saham menguat. Meskipun indeks terkoreksi, asing justru mencatatkan net buy sebesar Rp81 miliar di pasar reguler.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai sentimen pasar masih rapuh di tengah risiko konsentrasi indeks, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian terkait pengawasan pasar.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Dow Jones menguat 0,4%, sedangkan S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq melemah 0,4%. Harga minyak Brent melonjak 1,8% ke USD106,65 per barel seiring intensnya ketegangan geopolitik. Sementara itu, harga emas terkoreksi 0,6%.
Indeks dolar AS (DXY) menguat ke sekitar 102,6, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terakhir berada di level 5,24% karena pasar obligasi AS libur. Dari dalam negeri, rupiah melemah ke sekitar Rp17.900 per dolar AS.
“Katalis utama yang perlu dicermati ke depannya adalah data inflasi Amerika Serikat pada Rabu dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan berikutnya. Dalam kondisi tersebut, pendekatan selektif terhadap saham tetap relevan dibandingkan mengambil eksposur secara luas terhadap indeks,” jelas Rully.
Selain kondisi pasar secara keseluruhan, investor juga perlu memperhatikan risiko fundamental dan struktur pembiayaan masing-masing emiten. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin dan implikasinya terhadap risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menerangkan bahwa kemampuan pembayaran utang seharusnya menjadi dasar penilaian kredit, bukan semata-mata nilai aset yang dijaminkan.
“Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25% saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar USD960 juta per tahun, termasuk USD500 juta untuk tahun buku 2025,” ujar Nurkholis.
Berdasarkan porsi kepemilikan tersebut, bagian dividen Jhonlin secara historis berpotensi mencapai sekitar USD290 juta per tahun. Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20% terhadap asumsi fasilitas pembiayaan sebesar Rp26,1 triliun atau sekitar USD1,45 miliar yang sepenuhnya dibiayai utang. Angka ini jauh di atas asumsi biaya pinjaman sebesar 8%.
“Dengan struktur cicilan selama 7-8 tahun, dividen rata-rata BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar USD116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Sementara itu, cicilan tahunan sebesar USD252-USD279 juta dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” jelas Nurkholis.
Kemampuan pembayaran ini turut didukung oleh kinerja operasional BYAN. Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD410 juta, tumbuh 17% secara tahunan, serta memiliki kas sebesar USD934 juta.
Mirae Asset menilai bantalan pembayaran utang masih terbatas dan bergantung pada sejumlah asumsi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali Jhonlin. Jika menggunakan rata-rata dividen BYAN periode 2023–2025 sebesar USD667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan turun menjadi 0,72-0,80 kali. Dalam skenario tersebut, BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar USD830 juta per tahun agar DSCR berada di atas 1 kali.
“Risiko juga berasal dari kebijakan dividen BYAN. Jhonlin tidak menerima dividen tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen, mengingat keluarga Low masih memegang sekitar 32% saham BYAN. Selain itu, risiko terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang,” ujar Nurkholis.
Struktur pembiayaan, seperti gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen dan cadangan pembayaran utang dapat membantu mengelola risiko. Namun, pembayaran tetap bergantung pada arus kas dan siklus batu bara.
Meski transaksi dinilai tidak seburuk yang dikhawatirkan, Mirae Asset tetap berpandangan bearish terhadap BMRI karena tantangan fundamental, termasuk LDR 94,4%, CAR bank-only 17,5%, serta kenaikan Cost of Credit (CoC) di tengah rasio Loan Loss Reserve (LLR) sekitar 2,4%, level terendah sepanjang sejarahnya.
Dengan demikian, investor perlu mencermati risiko pembagian dividen BYAN, struktur pembiayaan, dan fundamental BMRI di tengah volatilitas pasar saham.
Tentang PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia tergabung ke dalam salah satu kelompok usaha jasa keuangan non-bank global yaitu Mirae Asset Financial Group yang memiliki dana kelolaan sekitar US$845 miliar (setara Rp 12.400 triliun) pada akhir tahun lalu.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merupakan salah satu Perusahaan efek terbesar dan terbaik di Indonesia dan menjadi anggota bursa teraktif di pasar saham karena volume dan frekuensi perdagangan saham nasabah perusahaan merupakan salah satu yang terbesar sejak 4 tahun terakhir.
Saat ini Mirae Asset memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Efek (PPE), Penjamin Emisi Efek (PEE), dan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). Nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) juga menunjukkan sehatnya operasional perusahaan dan menjadi salah satu yang terbesar. MKBD Mirae Asset di kisaran angka Rp1,23 triliun dalam setahun terakhir.
Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimal yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan untuk perusahaan efek, yaitu Rp25 miliar, beserta ketentuan lain.
