Sekolah Sirkular Serukan Perlindungan Hak Anak atas Udara Bersih
KLIPING.id-Yogyakarta— Para pendidik yang tergabung dalam Asosiasi Sekolah Sirkular Indonesia (ASSI), jaringan sekolah alumni program Indonesia Green Principal Award (IGPA) yang tersebar di 12 provinsi, meminta agar hak anak atas udara bersih dan pendidikan yang aman menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat bahwa per 1 September 2026, sebanyak 12.874 satuan pendidikan dengan sekitar 1,43 juta peserta didik, yang tersebar di 27 kabupaten/kota pada enam provinsi, telah menerapkan konsep Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah akibat asap karhutla. Sebanyak 1.365 di antaranya adalah sekolah tanpa listrik yang tidak dapat menjalankan pembelajaran jarak jauh secara daring.
“Berikan kami napas agar belajar kami berkualitas,” kata Ketua ASSI sekaligus Kepala SD Daarul Hikmah, Bandung, Jawa Barat, Iwan Kurniawan.
Bagi Iwan, asap yang datang hampir setiap tahun adalah cermin bagi dunia pendidikan. “Kabut asap membuktikan bahwa pendidikan belum menyentuh hal yang paling mendalam terkait kelestarian alam yang harus dijaga dan dipelihara,” ujarnya.
Pernyataan senada diungkapkan Yoyok Ardianto, selaku anggota ASSI sekaligus Kepala SMP Negeri 2 Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Ia menyampaikan bahwa permasalahan kabut asap menyebabkan siswa di sekolahnya lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan semangat belajar. “Guru pun ikut merasakan batuk dan mata perih,” imbuhnya.
Di sekolah Yoyok, konsep PJJ akibat kabut asap sudah berlangsung dalam empat gelombang sejak akhir Agustus 2026. PJJ juga bukan jalan keluar yang mudah. Tidak semua siswa punya akses internet dan perangkat yang memadai, tidak semua orang tua bisa mendampingi, bahkan rumah siswa pun ikut terpapar asap.
“Lindungi anak-anak, jaga lingkungan, dan pastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang kehilangan hak untuk belajar karena bencana,” tegas Yoyok.
