Tantangan Media di Tengah Arus Informasi
KLIPING.id-Jakarta-Universitas Paramadina melalui Paramadina Graduate School of Communication (PGSC) sukses menggelar International Guest Lecture Series bertajuk “Journalism, Media and a More Informed World: Global Impact and Media Literacy in the Digital Era”.
Acara yang digelar secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2026 ini menghadirkan dua akademisi dari Western Sydney University, Australia, yakni Prof. Tanya Notley dan Associate Professor Asha Chand.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, membuka acara dengan menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya kolaborasi akademik internasional dalam menjawab tantangan disinformasi dan literasi media di era digital. Prof. Didik berharap kerja sama antara Universitas Paramadina dan Western Sydney University dapat terus diperkuat di masa mendatang, baik dalam bidang penelitian, pengajaran, maupun pengembangan kapasitas literasi media masyarakat.
Dalam pemaparannya, Prof. Tanya Notley menguraikan temuan riset terkait tantangan literasi media di tengah banjir informasi. Ia menyoroti enam persoalan utama:
Platform media sosial memungkinkan overload informasi yang dapat memicu stres, penghindaran berita, rasa takut, dan kecemasan.
Diet informasi sering dikendalikan oleh prioritas komersial, sehingga pengguna terpapar konten yang tidak diinginkan dan misinformasi, padahal banyak yang belum memahami cara kerja platform.
Sebagian besar orang dewasa belum mampu memverifikasi informasi secara online, bahkan cenderung overconfident terhadap kemampuan mereka.
Orang cenderung membuat asumsi cepat tentang siapa dan apa yang bisa dipercaya di ruang digital.
Meskipun diet informasi bersifat individual, pengambilan keputusan bersifat relasional—keluarga dan teman berperan penting dalam mengevaluasi informasi.
Mayoritas orang dewasa memiliki pemahaman terbatas tentang lingkungan media digital, namun sangat mendukung pendidikan literasi media dan ingin meningkatkan kemampuan mereka.
Prof. Notley menekankan pendekatan “Living with Misinformation” yang meliputi penerimaan bahwa lingkungan informasi online (terutama media sosial) penuh misinformasi, peningkatan pengetahuan tentang teknik industri misinformasi, penguatan berpikir kritis untuk scepticism yang sehat, serta pengembangan keterampilan digital untuk memverifikasi klaim dan mengendalikan lingkungan informasi pribadi.
Ia juga memperkenalkan kerangka pendekatan Curious, Critical, Confident yang didukung oleh conceptual framework (enam konsep kunci: technologies, representations, audiences, institutions, languages, dan relationships) serta connected learning di berbagai ruang (rumah, sekolah, universitas, perpustakaan, museum, media, dan pusat komunitas).
Sementara itu, Associate Professor Asha Chand menekankan pentingnya edukasi literasi media kepada berbagai pihak, termasuk influencer. Menurutnya, ethical quality journalism merupakan fondasi utama bagi literasi media publik. Tanpa jurnalisme yang beretika, akurat, adil, dan bertanggung jawab, upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi akan sulit tercapai.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PGSC Universitas Paramadina untuk memperkaya wawasan mahasiswa dan akademisi mengenai isu-isu kontemporer jurnalisme dan literasi media global, sekaligus memperkuat jejaring internasional.
