Cerita dari Tanah Suci Ferdi Setiawan, M.IKom (Wakil Pemimpin Redaksi Sinpo TV & Sinpo.id) Petugas Haji Media Center Haji Daker Bandara

Cerita dari Tanah Suci  Ferdi Setiawan, M.IKom (Wakil Pemimpin Redaksi Sinpo TV & Sinpo.id)  Petugas Haji Media Center Haji Daker Bandara

KLIPING.id-Saat ini redaksi menerima tulisan yang cukup berkesan mengenai perjalanan ibadah haji dari salah satu petugas haji Media Center.

 

Berikut petikan wawancaranya:

 

  1. Momen paling berkesan sejak tiba di sini apa?

Saat pertama kali tiba di bandara King Abdul Aziz Jeddah Madinah, mengingatkan saya kepada perjalanan spiritual ibadah Umrah yang pada waktu itu saya Jalani Bersama anak sulung saya. Rasanya seperti tidak percaya dan luar biasa takjub, karena doal yang saya panjatkan pada saat umrah di akhir tahun 2024 agar bisa Kembali ke tanah suci bisa terwujud atas Ridho dan Kuasa Allah SWT. Tidak hanya itu, saya juga langsung teringat sahabat saya yang juga Jurnalis Aiman Witjaksono (kini Pemred Inews TV) yang juga sempat mendoakan saya di Multazam, agar saya bisa segera Berhaji ke Tanah Suci, rupanya doa sahabat saya Aiman Witjaksono tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, hingga membuat saya bisa berada di tanah suci untuk menjalankan ibadah suci Haji 2026. Saya sangat bersyukur dan dalam hati kecil selalu berucap Alhamdulillahirobbil alamin. Rasanya sulit lagi dijelaskan dengan kata-kata.

  1. Tadi pertama kali lihat Ka’bah, apa yang langsung dirasakan?

Rasa haru dan mata tak kuasa meneteskan air mata, bukan karena sedih, tapi karena merasa Allah benar-benar mengundang saya ke rumah-Nya. Saya merasa sangat kecil, tetapi sekaligus sangat dekat dengan-Nya. Dalam hati saya sembari mendoakan keluarga, kedua orang tua, istri, anak dan sanak saudara. Namun, dalam sekejab saya berdoa di hadapan Kabah, doa untuk Orang tua saya khususnya Ibu saya, karena pada saat saya pamit berangkat bertugas haji, Ibu saya sedang sakit dan membutuhkan perawatan intensif, sementara saya tidak bisa menjaga langsung Ibu. Namun saya tak boleh berlarut dan percaya sama Allah, sudah mengatur perjalanan suci ini, saya juga merasakan nikmat yang luar biasa karena dimudahkan menuju Ka’abah. Dan pada saat umrah wajib tersebut, saya meminta kepada Allah agar dimudahkan dan diberi kelancaran dalam menjalankan aktivitas di tanah suci sebagai petugas haji dan bisa sekaligus menjalan ibadah haji tahun ini.

  1. Ada momen di sini yang bikin Bapak/Ibu berhenti sejenak?
Baca Juga:  Dewan Da’wah Resmi Melepas 137 Guru Ngaji ke Pedalaman Negeri Indonesia

Banyak moment yang membuat saya dalam kondisi tersebut. 

Yang pertama saat wukuf di Arafah, saya terdiam cukup lama. Saya membayangkan perjalanan hidup saya dari kecil sampai hari ini. Rasanya seperti melihat kembali seluruh kehidupan dalam satu waktu. Banyak dosa, maksiat, mudharat dan kekhilafan yang pernah saya alami atau Jalani, Saya rasakan sangat berat mengungkapkannya ke Allah. Seraya memohon ampun dengan bersungguh sungguh, saya juga meminta agar diberi kesempatan untuk bisa menjadi orang beriman, bertaqwa dan jauh dari perbuatan hina hingga menjadi orang yang lebih baik secara iman dan islam.

Yang kedua, pada saat Wukuf saya mendapat video call dari istri yang mengabarkan bahwa Ibu saya sedang kritis di Rumah Sakit. Pada saat itu keluarga di kampung sudah berkumpul dan bahkan meminta saya untuk mengikhlaskan Ibu. Saya langsung termangu dan shock yang luar biasa. Sosok Ibu yang luar biasa bagi saya, sakit tak berdaya tapi saya tidak mendampingi dan membantu atau sekedar memegang tangan Ibu, saya hanya bisa menangis dan berdoa dengan selalu mengucap Tahlil, istigfar hingga terus menangis melihat raut wajah ibu saya yang sudah tidak bisa merespon sapaan saya dari ujung video call. Pada saat itu, saya seperti “NGEFREZZE”, hanya terus menatap wajah ibu saya melalui HP. Disaat itulah, saya berdoa kepada Allah di siang hari Wukuf, meminta keajaiban agar ibu saya disembuhkan dipulihkan agar saya masih bisa bertemu Ibu pada saat selesai tugas sebagai petugas haji. Moment yang tak bisa terlupakan pada saat saya LIVE REPORT Wukuf di SINPO TV, saya tak kuasa menahan tangis, karena mengingat Ibu saya yang masih belum ada kabar dari keluarga di Indonesia. (Note) Ibu saya wafat pada tanggal 20 Juni 2026, saat saya masih bertugas melayani jemaah haji di tanah suci. Saya tidak bisa mengiringi pemakaman almarhumah ibu, karena harus melayani tamu Allah. Semua sudah kehendakNya, dan saya meyakini Allah akan siapkan surga untuk Ibu saya.

Baca Juga:  Nonton Piala Menpora dari Rumah Memang Asyik

 

  1. Sebelum berangkat haji, keseharian Bapak/Ibu seperti apa?

Tidak ada yang special dari saya, Saya hanya menjalani kehidupan sederhana. Setiap pagi mengantar dua anak gadis ke sekolah (anak kedua dan ketiga), karena 1 anak pertema cowok di pesantren di Banten. Setelah mengantar anak, langsung bekerja setiap hari sebagai Wakil Pemimpin Redaksi di Sinpo TV dan Sinpo.id, memimpin organisasi redaksi hingga mengajar  mahasiswa komunikasi sebagai dosen di Universitas Dian Nusantara Jakarta serta berkecimpung dalam beberapa organisasi profesi yang saya ikuti. Setelah itu mengurus keluarga, dan berusaha menjalankan kewajiban sebaik mungkin. Berkegiatan juga di Perumahan bertemu dan silaturahmi bersama kerabat, kolega dan tetangga di kompleks perumahan.

 

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *