Ekosistem Industri Halal dan Pembiayaan UMKM perlu Diperkuat

Ekosistem Industri Halal dan Pembiayaan UMKM perlu Diperkuat

KLIPING.id-Jakarta – Pengamat ekonomi syariah Hakam Naja menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri halal global. Namun, untuk mencapai target tersebut, diperlukan penguatan ekosistem, harmonisasi standar sertifikasi, serta dukungan pembiayaan yang lebih besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam paparannya, Hakam mengatakan persaingan industri halal di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah semakin ketat. Negara-negara seperti Malaysia telah lebih dahulu membangun regulasi, ekosistem, serta dukungan industri yang terintegrasi sehingga mampu memperkuat daya saing produk halal mereka di pasar internasional.
“Indonesia harus tetap terbuka terhadap perkembangan teknologi dan praktik global, namun standar yang diterapkan harus tetap mengacu pada ketentuan nasional. Pengakuan sertifikasi dapat berbeda-beda, tetapi kualitas dan standar produk halal harus tetap terjaga,” ujar Hakam.

Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi digital seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), hingga blockchain menjadi bagian penting dalam meningkatkan efisiensi industri halal. Transformasi digital dinilai dapat memperkuat rantai pasok, meningkatkan transparansi, serta memperluas akses pasar bagi produk-produk halal Indonesia.
Menurut Hakam, sektor UMKM memegang peranan dominan dalam perekonomian nasional. Ia menyebut lebih dari 99 persen pelaku usaha di Indonesia berasal dari sektor UMKM, yang juga menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional. Karena itu, kebijakan yang mendukung pengembangan UMKM berbasis halal perlu terus diperkuat.

“Kontribusi UMKM sangat besar terhadap ekonomi nasional, sehingga dukungan pembiayaan, pendampingan, serta akses pasar harus terus ditingkatkan agar mereka mampu bersaing di tingkat global,” katanya.
Hakam juga menyoroti masih rendahnya porsi pembiayaan syariah bagi sektor produktif dibandingkan negara lain, termasuk Malaysia. Menurut dia, peningkatan akses pembiayaan syariah menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pertumbuhan industri halal nasional.

Baca Juga:  PDB UMKM 51 Persen, DPR Minta Permodalan Tepat ke Mereka

Selain pembiayaan, ia menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif, penguatan rantai pasok, kemudahan fasilitas perdagangan, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pemerintah daerah. Langkah tersebut diperlukan untuk membangun ekosistem halal yang kuat dan berdaya saing internasional.

“Persaingan global semakin terbuka. Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan memperkuat standar, ekosistem, dan kapasitas industri agar mampu memanfaatkan peluang besar di sektor halal dunia,” tutur Hakam Naja.

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *