GUS DUR SANG PAHLAWAN Pembela Kemanusiaan

GUS DUR SANG PAHLAWAN  Pembela Kemanusiaan

KLIPING.id-Mukadimah

Syair intelektual revolusioner nan macho bernama Ali Syari’ati dalam puisi “Satu yang Diikuti Nol-nol yang Tiada Habis-habisnya” tak biasanya menjadi senjata untuk membangkitkan kesadaran manusia yang terlelap, bahkan mati jiwanya di alam dunia. Dibangkitkan kembali menjadi sejatinya manusia. Manusia adalah segalanya, manusia selalu menarik untuk dibedah untuk mencari jawab tentang arti kepastian dan siapa sesungguhnya dirinya.

Pisau filsafat pembentukan manusia, dalam pandangan Syari‟ati menyasar bahwa hanya manusia yang dibaptis Tuhan untuk menggerakkan jagat semesta, laksanakan amanah-Nya. Malaikat jauh sebelumnya sudah memprediksi kelakuan manusia, sebagai biang tengkar angkara murka di bumi. Tapi Tuhan sangat tahu yang tidak diketahui barisan malaikat. Karena itu, manusia punya darah juang pengetahuan, daya perang dan daya iman sejati untuk melaksanakan misi besar menjadi khalifah di bumi. Maka, Maha benar deklarasi manusia yang dikaruniai dengan keberanian, strategi perang nafsu, keutamaan, kearifan dan kebijaksanaan di jagat semesta.

 

“And I said: the great man always acts like a thunder.

He storms the skies, while others are waiting to be stormed,”

—Thomas Carlyle, Sejarawan Inggris

“Jadilah manusia agung bagai seorang syahid.

Seorang imam, bangkit, dan berdiri.

Di antara rubah, serigala, tikus, domba.

Di antara nol-nol, bagai yang satu”

 

Senja ini kita akan ngobrol-ngobrol perihal mahaguru bangsa, tokoh bangsa, dan Presiden Indonesia ke-4, yaitu Gus Dur. Hidupnya ditujukan untuk umat, bangsa, dan perdamaian dunia.

Gusdur Sang Pahlawan

Untuk keluarga, menjadi teladan anak, cucunya, dan pecintanya. Tentunya dalam laku dan cara ia memperlakukan sesama manusia. Sebagaimana ucapan waliyullah Imam Ja’far Asshadiq, “Janganlah silau dengan banyaknya shalat dan puasa seseorang. Namun, bagaimana ia memperlakuan orang lain.”

Ya, perihal Gus Dur. Sosok fenomenal, pejuang demokrasi, pembela kaum lemah, marjinal, pluralis, kontroversial, dan humoris. Ia dikenang sepanjang masa oleh segenap anak bangsa hingga kini jadi sang pahlawan.

Kita semua seyogianya bersaksi bersama, bahwa Gus Dur bisa disimpulkan dengan tiga kata; ia lahir, berjuang, dan syahid. Gus Dur masuk geng manusia ideal, sosok khalifah Tuhan yang telah bergerak di jalan puncak penghambaan yang sulit, terjal dengan memikul beban-beban amanah. Sampai ia menuju ke ujung tapal batas dan membentuk diri jadi khalifah serta penggerak firman-firman Tuhan.

Gus Dur adalah tipologi manusia ‘theomorphis’, manusia yang berjalan dan bergerak dengan berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Gen ‘manusia menuhan’ dengan segala risiko terbesar yang dialami hidupnya dalam perjalanan dari alam menuju Sang Pencipta alam.

Wahai kaum muda di penjuru Tanah Air.

Generasi terkini mesti tahu sosok Gus Dur. Ia pernah dicaci maki dengan sebutan buta mata dan buta hati. Namun, yang dicaci maki dengan rileks berkata, “Seseorang yang masih terpengaruh pujian dan caci makian, maka ia masih jadi hamba yang amatir.” Ampunnn Gus!

Baca Juga:  OJK Siapkan Aturan Demutualisasi BEI, Kepemilikan Saham Maksimal 5 Persen

 

Sahabat Fillah…

Gus Dur adalah benih yang ditaburkan di ladang oleh Allah Taala, yang bertunas dan melambaikan daun mudanya di hadapan matahari. Gus Dur tumbuh menjadi pohon besar, akarnya di dalam pusat bumi dan dahan-dahannya tinggi di langit.“Tak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian,” begitu dawuhnya.

Ia yang selalu membagi kegembiraan, cinta, dan harapan pada bangsa, negara, dan mereka yang tak berdaya. Gus Dur telah memberi kedamaian dan kerukunan antar semua anak bangsa. Ia bukan parasit negara seperti you, politisi gincu!

Ayo katakan, siapa Gus Dur dan sosok seperti apa Gus Dur? Apakah ia adalah politikus yang bertanya,“Apa yang dapat diperbuat negara bagimu?” Atau seseorang yang taat, yang berkata, “Apa yang dapat ia perbuat untuk negaramu, Indonesia?” Kalau termasuk yang pertama, maka engkau hanyalah parasit. Kalau yang kedua, maka ia ibarat oase di padang gurun.

Sahabat-sahabati yang kami hormati di warung-warung kopi dan kafe.

Kita pernah melihat Gus Dur, baik di rumahnya maupun di luar, mengenakan pakaian yang sederhana. Kainnya dari bahan yang tak tampak berkualitas. Pakaian celana dan kaos tanpa merk, misalnya Armani, Hermes, Polo dan lain-lain. Ya, seperti pakaian yang dikenakannya ketika ia berdiri di depan istana, sambil melambai-lambaikan tangan kepada ribuan umatnya yang menunggunya menjelang ia dilengserkan dengan paksa dan inkonstitusional dari kursi kepresidenan.

Tak ada bedanya, ketika beliau di Istana ataupun di rumahnya. Gus Mus, K.H Ahmad Mustofa Bisri, malah menyampaikan pernyataan yang menarik,“Dalam berpakaian, Gus Dur ittiba’ Kanjeng Nabi yang selalu berpakaian sederhana dan sesuai budaya lokalnya.” Ittiba’ artinya mengikuti Nabi Muhammad Saw.

Gus Dur jarang di rumah. Hari-harinya tampak begitu sibuk bertemu dan melayani umat. Saat beliau pulang, mungkin kita sudah tidur, karena beliau pulang larut malam atau dini hari yang sepi.

Seorang teman bertanya. “Jadi apa saja kerjaan Gus Dur sehari-hari selama hidupnya?”Yaitu Gus Dur menyusuri jalan cahaya. Beliau menjalani hari-harinya untuk bekerja keras menerjemahkan gagasan kemanusiaan, baik melalui tulisan di berbagai media, ceramah di berbagai tempat, di seminar, ataupun dalam sikap hidupnya sehari-hari di mana pun dan kapan pun. Gus Dur selalu berkhidmat untuk orang lain. Sekali lagi khidmat untuk sesama!

Gus Dur mengunjungi orang-orang yang dimarjinalkan, direndahkan, ditindas, didiskriminasi hak-hak hidupnya, dan mengembalikan hak-hak mereka yang dirampas. Siapa pun mereka. Dengan penuh gairah cinta, ia kerap berjalan sendiri, tanpa rasa gentar, menerjang setiap penghalang untuk mewujudkan impian-impiannya. Ia siap melawan siapa saja yang berusaha menghalangi geraknya yakni membela kemanusiaan, bukan pembunuh kemanusiaan.

Baca Juga:  Semifinal Piala AFF, Indonesia Jalani Laga Home Lebih Dulu

Bahkan bagi Gus Dur, berjuang demi kemanusiaan jauh lebih penting daripada memperebutkan politik kekuasaan. Atau dalam bahasa Gus Dur, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”

Seperti yang pernah ada dalam kisah Nabi Musa as. Saat ia berkata, “Wahai Tuhanku, di mana aku bisa menjumpaimu? Tuhan menjawab, “Carilah aku di tengah-tengah mereka yang hatinya hancur.” Ya, tentang orang yang hancur hatinya, tentang kemanusiaan.

Sahabatku generasi Z dan milenial !

Gus Dur, adalah nama yang menyimpan kekayaan pengetahuan humaniora dan spritualitas yang seakan tak pernah habis dikaji. Meski telah pulang, beliau masih terus disebut dan kata-katanya terus dikutip dan diurai serta dirindukan oleh banyak orang. Tempat istirah abadinya tak pernah sepi dikunjungi ribuan pecintanya tanpa sekat primordial sedikit pun. Mereka mendo’akannya sambil menyeka air yang menetes dari matanya.

“Ini menarik sekali. Apakah rahasianya?” Tanya seorang teman. Kita bisa menjawabnya dengan hikmat,“Gus Dur mencintai, memberi, dan melayani mereka. Siapa yang mencintai akan dicintai. Siapa yang memberi akan diberi. Siapa yang melayani akan dilayani.” Kitab suci Al-Quran menyatakan,“Jika kalian berbuat, maka kebaikan itu untuk sendiri. Dan jika kalian berbuat buruk, maka keburukan itu kembali kepadamu.”

Itulah Legacy Gus Dur yang keren. Yuk, kita amalkan dalam kseharian, tidak menjadi manusia yang egois, kikir, serakah dan narsis apalagi gragas bin serakah. Belajar dari Gus Dur adalah belajar keteladanan sehari-hari, sebagaimana akhlak sosial Sang Nabi. Sebagimana Syair Ali Syariati, arsitek revolusi Islam,”Jadilah manusia agung bagai seorang syahid. Seorang imam, bangkit, berdiri di antara rubah, serigala, tikus, domba. Di antara nol-nol, bagai yang satu.”

Puncak hamba yang menjadi teladan akhlak mulia dan kepemimpinan Indonesia telah dicontohkan Gus Dur. Ia berjuang membela kemanusiaan tanpa syarat apa pun, tak peduli risiko bahaya dan nyawa menjadi taruhannya. Membela kearifan lokal dan kaum minoritas di seluruh penjuru negeri yang bertransformasi dalam wujud dasar negara Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Gus Dur selalu setia terhadap visi kebangsaan yang diperjuangkannya dalam setiap masa.

 

GUS DUR: LAHIR, BERJUANG DAN SYAHID

Legacy Gus Dur yang keren ialah Tuhan tidak perlu dibela. Dia sudah Maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil, belalah ia yang tertindas, orang orang yang hancur hatinya.

Kita semua pernah menimba jejak-jejak muliamu, samurai ilmumu, akar-akar kepemimpinanmu, jurus politikmu, masuk dalam alam pikiranmu, ilhammu, dan kesetiaan visi geopolitikmu, yaitu berjuang demi Islam dan Indonesia. Islammu, Islamku, Islam Kita. Indonesia, negeri tercinta kita.

Baca Juga:  Wagub DKI Sampaikan Duka Atas Wafatnya Adik Gusdur

Hidupmu engkau abdikan sepanjang sejarah, dengan terang benderang, teguh, berani saat melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap orang-orang tertindas dan dilemahkan. Engkau membela kelompok minoritas dan kaum marjinal: Ahmadiyah, Syiah, etnis Tionghoa, dan orang-orang yang hancur hatinya di setiap waktu subuh menghadap Tuhannya.

Sebuah perubahan besar dalam sejarah dunia sosial politik tidak ditentukan oleh kekuatan pribadi, poros individu sebagai agen sejarah, baik secara teoritis maupun praktis. Perubahan besar itu terdorong oleh agregasi berbagai faktor yang membentuk kekuatan besar untuk memfasilitasi sebuah kejatuhan dan kemunculan geng politik baru yang ditindas dan disingkirkan. Sebagaimana yang dialami NU (Nahdlatul Ulama) yang memang tidak diharapkan oleh ‘kekuatan tertentu’ di bumi Indonesia.

Thomas Carlyle, ahli sejarah dari Inggris abad ke-19 yang berfatwa, “Sejarah, pada dasarnya merupakan sejarah orang-orang hebat.” Dan Gus Dur adalah sebuah contoh utama. Sejarawan Inggris itu adalah pencinta the great man theory. Hal tersebut sangat kontras dengan kaum materialis, yang mengatakan bahwa perubahan sejarah itu dimulai dari teknologi serta distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan sosial. Bahkan, kaum idealis bersabda bahwa ide dan gagasanlah yang mencipta perubahan sosial.

Postulat perihal the great man theory membumikan jejak pahlawan sebagai epicentrum dari segala perubahan sejarah dunia. Kehadiran sang pahlawan adalah prototipe manusia besar yang merubah dan membalik sejarah. “And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed,” ucap Thomas Carlyle saat menggoreskan postulat teoritis tentang ‘manusia besar’ dalam panggung sejarah manusia. Kita katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar. Dan sosok Gus Dur adalah sebuah contoh utama di bumi Indonesia.

Dari segenap pergerakan pemikiran dan tindakannya dilipat dalam hasrat untuk mendirikan ‘Republik bumi di surga’. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai tujuan pertama dan utama, maka pemikiran apa pun takkan jadi ideologi yang tertutup dan mendebarkan bagi nyawa manusia.

Gus Dur adalah katalis perubahan, pengamal cinta kemanusiaan tanpa batas seperti yang diteladaninya dari Nabi Muhammad Saw.

Semua anak bangsa di era kekinian mesti mengenalnya, meneladaninya untuk meniti hari kehidupan yang baik. Bangsa ini pernah diselamatkan Gus Dur dari kehancuran dan pertumpahan antar anak bangsa. Allah !

Kenang, kenanglah bro dan sista!

Sruputt dulu kopinya Gus & sahabat kekasih Tuhan!

Gitu aja kok repot !

Oleh Dinno Brasco

(Pengurus Pusat GP ANSOR &

Cand. Magister Universitas Paramadina)

 

Anto -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *