Menggembleng Anak Cinta Alquran
KLIPING.id-Jakarta-Mendidik anak sejak dini mencintai Allah dan alquran. MUHARRAM menjadi momentum bagi setiap orang tua untuk kembali menata cara memandang anak. Dalam Islam, anak bukan sekadar penerus garis keturunan, kebanggaan keluarga, atau ukuran keberhasilan hidup. Anak adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Kesadaran itulah yang semestinya hadir setiap kali orang tua menatap wajah putra-putrinya. Mereka bukan milik yang bebas diarahkan hanya demi ambisi dunia, melainkan titipan Allah yang harus dibimbing agar tetap berada di atas jalan fitrah. Karena itu, ukuran keberhasilan mendidik anak tidak berhenti pada prestasi akademik atau kemapanan karier, tetapi pada kuatnya tauhid, ibadah, dan akhlak mereka.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini menegaskan bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh, melainkan benteng pertama yang menjaga akidah, ibadah, akhlak, dan masa depan akhirat seluruh anggota keluarga.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap anak lahir di atas fitrah. Namun, orang tualah yang dapat mengarahkan mereka kepada kebaikan atau sebaliknya. Hadis tersebut menjadi peringatan agar orang tua tidak lalai hingga membiarkan anak kehilangan fitrah keislamannya karena pengaruh lingkungan, pendidikan, maupun budaya yang menjauhkan mereka dari Allah.
Al-Qur’an menghadirkan sosok Luqman sebagai teladan pendidikan keluarga. Nasihat pertamanya kepada sang anak bukan tentang harta atau kedudukan, melainkan larangan berbuat syirik. Dari sini tampak bahwa pondasi utama pendidikan anak adalah tauhid. Sebelum anak diajarkan mengejar prestasi, ia harus terlebih dahulu mengenal dan mencintai Rabb-nya.
Tantangan zaman kini semakin kompleks. Arus digital, media sosial, dan budaya populer membentuk cara berpikir anak sejak usia dini. Karena itu, orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan kepada sekolah semata atau membiarkan gawai menjadi pengasuh utama. Anak membutuhkan kehadiran orang tua, keteladanan, serta pendampingan yang penuh kasih sayang.
Kasih sayang pun harus berjalan seiring dengan ketegasan. Anak memerlukan fasilitas untuk berkembang, tetapi juga membutuhkan batasan yang menjaga akidah dan akhlaknya. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, melainkan juga wajib menghadirkan doa, nasihat, dan suasana rumah yang menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Merawat Fitrah
Muharram menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah sekaligus reset pola pengasuhan. Orang tua dapat kembali menjadikan salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, infak, dan doa sebagai tradisi keluarga. Waktu berkualitas tanpa gangguan gawai pun menjadi ikhtiar sederhana untuk menguatkan ikatan hati antara orang tua dan anak.
Doa juga merupakan bekal yang tidak boleh ditinggalkan. Para nabi mengajarkan berbagai doa untuk memohon keturunan yang saleh dan keteguhan iman keluarga. Orang tua hendaknya menyebut nama anak-anak mereka dalam setiap munajat, terlebih ketika mereka sedang menghadapi ujian kehidupan atau mulai menjauh dari nilai-nilai agama.
Keberhasilan orang tua pada akhirnya tidak hanya diukur dari tingginya pendidikan, besarnya penghasilan, atau megahnya rumah anak-anak mereka. Kebahagiaan sejati adalah ketika anak tetap menjaga salat, berakhlak mulia, serta istiqamah di atas tauhid hingga akhir hayat. Itulah bekal yang akan menyelamatkan orang tua dan anak di akhirat.
Anak yang dijaga fitrahnya sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh imannya sekaligus bermanfaat bagi sesama. Dari keluarga-keluarga yang menjaga amanah inilah lahir generasi yang mampu menjaga peradaban. Sebab, membesarkan anak bukan hanya tentang menyiapkan masa depan dunia, tetapi juga mengantarkan mereka menuju keselamatan dan kemuliaan di akhirat.*
