Kicauan Perkutut, Geliat Ekonomi Kreatif di Alun-Alun Kidul Yogyakarta
KLIPING.id-Yogyakarta-Burung perkutut berkicau bergantian di Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Minggu (13/9/2026). Sesuai pengamatan dari Rika Bulan Syafitri mahasiswa magang Dinas Pariwisata DIY yang ikut serta pada kegiatan tersebut, Sejak pagi setelah runtutan acara pembukaan para peserta memenuhi area perlombaan dengan sangkar burung terbaiknya. Sementara itu, banyak penonton yang menyaksikan acara hingga selesai.
Suasana ini merupakan bagian dari Konkurs Nasional Suara Alam Burung Perkutut Piala Raja Hamengku Buwono Cup XXXV 2026 yang diselenggarakan oleh P3SI yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Koperasi. Acara tersebut berlangsung pada tanggal 12–13 September 2026. Namun, pada hari kedua atau Minggu (13/9), merupakan puncak acara dengan perlombaan antara kelas dewasa senior dan kelas dewasa yunior.
Acara dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dengan opening ceremony yang menampilkan pertunjukan tari tradisional dan kirab Bregada Prajurit. Acara tersebut kemudian dilanjut penyerahan trophy mahkota, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, dan sambutan dari berbagai pihak. Setelah itu, peserta dan pengunjung dapat mengunjungi UMKM di area Pojok Ekraf sebelum memasuki perlombaan.
Burung perkutut dalam acara ini bukan hanya sekedar perlombaan saja. Perkutut erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Yogyakarta dan telah dikenal sejak zaman dahulu. Perkutut juga merupakan fauna identitas Yogyakarta, sehingga kompetisi perkutut sejalan dengan upaya melestarikan dan melindungi budaya.
Tema acara ini, “Perkutut, Budaya, Komunitas, dan Peluang Ekonomi Kreatif di Yogyakarta,” menunjukkan bahwa acara ini bukan sekadar perlombaan. Namun juga berfungsi sebagai ruang masyarakat untuk berkumpul, menjalin silaturahmi dan membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM.
Piala Raja Hamengku Buwono telah diadakan sebanyak 35 kali, dengan pelaksanaan satu kali setiap tahun. Menunjukan komunitas perkutut yang terus berkembang sambil mempertahankan tradisi yang telah lama ada di dalam komunitas tersebut.
800 perkutut lebih berpartisipasi dalam kompetisi ini. Peserta berasal dari berbagai daerah, termasuk Surabaya, Sidoarjo, Madura, Bali, Gresik, , Jakarta, , Bogor, Cirebon, Semarang, dan beberapa daerah di sekitar DIY. Peserta tidak selalu membawa satu ekor burung, beberapa mengikutsertakan lebih dari satu ekor burung.
Pada hari Minggu (13/9), kelas Dewasa Senior dan Dewasa Yunior dipertandingkan. Setiap kelas memberikan trophy mahkota bagi pemenang pertama hingga ketiga, sedangkan keempat hingga kedua puluh menerima piala reguler. Selain hadiah perlombaan, peserta maupun penonton juga berkesempatan mendapatkan doorprize, seperti sepeda gunung, barang elektronik, bahkan pakan burung gratis untuk semua peserta.
Menurut Ketua P3SI Pengwil DIY, tingkatan perlombaan menjadi salah satu hal yang membedakan acara ini dari perlombaan lainnya.
“Yang membedakan acara kali ini yaitu tingkatan perlombaan. Acara ini merupakan lomba burung tingkat nasional, yang mana ini merupakan level tertinggi. Jika bisa memenangkan acara ini maka itulah jagonya se-Indonesia,” ujar Ketua P3SI Pengwil DIY.
Suara burung perkutut bukan satu-satunya suara yang terdengar di Alun-Alun Kidul hari itu. Aktivitas ekonomi juga berlangsung di area. Beberapa UMKM dari Pojok Ekraf mendirikan stan dan menawarkan berbagai produk kepada peserta dan pengunjung.
Produk yang ditawarkan mencakup kuliner hingga kriya. Adanya UMKM ini menunjukkan bagaimana sebuah acara komunitas dapat menciptakan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan dan menjual produk mereka kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Bagi UMKM, kehadiran peserta dari luar Yogyakarta menghadirkan peluang untuk memperluas pasar mereka. Jumlah peserta dan penonton yang banyak juga dapat meningkatkan aktivitas jual beli di lokasi.
“Acara ini sangat bermanfaat bagi kami pelaku UMKM. Banyaknya peserta yang hadir dari banyak kota serta penonton pecinta burung membuat laris dagangan kami” ujar salah satu pelaku UMKM Pojok Ekraf.
Dengan demikian, acara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat kompetisi tetapi juga sebagai tempat pertemuan bagi komunitas, budaya, pariwisata, dan aktivitas ekonomi. Alun-Alun Kidul sebagai lokasi penyelenggaraan acara tersebut, memberikan pengalaman unik bagi peserta dari luar daerah serta memungkinkan mereka untuk merasakan suasana Yogyakarta.
Ketua P3SI Pengwil DIY berharap kerja sama antara Komunitas Perkutut, Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Koperasi dapat terus berlangsung sehingga penyelenggaraan event berikutnya semakin meriah dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Harapan bagi kami para komunitas burung perkutut yaitu semoga kerja sama antara kami, Dinas Pariwisata DIY serta Dinas Koperasi terus bertahan dan event selanjutnya terus meriah dan semakin lama akan terus dapat meningkatkan UMKM di Jogja,” ujarnya.
Pada akhirnya, Piala Hamengku Buwono XXXV 2026 menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif dapat berjalan berdampingan. Ketika sebuah tradisi dapat menyatukan komunitas sekaligus menciptakan peluang bagi para pengusaha, kicauan burung merpati bukan lagi sekadar suara kompetisi, tetapi juga bagian dari geliat ekonomi kreatif Yogyakarta.
Penulis: Rika Bulan Syafitri / Universitas Amikom Yogyakarta
